Hukum Kekekalan Rezeki

Alhamdulillah.. puji syukur hanya milik Alloh. Segala pujian hanya milik Alloh. Dan segala sesuatu terjadi karena kekuasaanNya. Sholawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah ﷺ beserta para keluarga dan sahabatnya.

Bismillahirrahmanirahiim.. kita mulai KAJIAN KAMIS pertama di tahun 2021.


Sampai saat ini, salah satu curhatan yang paling sering saya terima dari banyak jamaah adalah betapa sulitnya menjaga iman dan ketaatan di tempat kerja.
Apa maksudnya? Begini kawan..

Salah satu nilai positif dari menggeliatnya dakwah saat ini adalah, banyaknya masyarakat yang mulai ingin kembali hidup dalam tuntunan Qur’an dan Sunnah.

Saat di dalam majelis, iman mereka seperti kembali dipoles. Bersinar kembali. Iman meningkat dan semangat berubah baik.

Namun saat kembali ke lingkungan asal, iman yang sudah dipoles tadi seperti mendapat guyuran lumpur. Kembali kotor dan iman pun melemah. Dan salah satu yang paling menjadi problem adalah susahnya menjaga keimanan di tempat kerja.

Karena tuntutan pekerjaan, perintah atasan, sistem yang berlaku atau lainnya. Membuat banyak saudara kita tidak bisa secara sempurna untuk taat kepada syariat.

Ada yang susah menutup aurat, ada yang sulit untuk jujur dan amanah, ada yang tak bisa menghidari uang subhat, ada yang dipaksa terus berbohong, ada yang tak bisa bisa sholat di awal waktu, atau bahkan sampai ada yang bahkan dilarang sholat misalnya. Dan itu semua bertentangan dengan hati nurani.

Hal ini menjadi simalakama bagi sebagian kawan-kawan.

Kerja salah, tak kerja tambah salah. Sementara ia masih mengharapkan gaji tersebut untuk memenuhi beberapa kebutuhan penting yang sedang diupayakan.

Untuk itu, kita akan bahas, bagaimana sikap kita sebaiknya sebagai seorang mukmin.

Pertama, pahami prinsip dasar ini..
Bahwa manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Alloh.

Bukan sibuk nyari uang, atau sibuk dengan tumpukkan pekerjaan dunia. Segala macam aktivitas di dunia termasuk bekerja, adalah sarana untuk memudahkan kita beribadah kepada Alloh.

Sama dengan motor atau mobil yang hanya disebut kendaraan, bukan tujuan. Jangan sampai lebih cinta mobil, sampai akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakannya. Dan sebagai akibatnya, kita tak akan pernah sampai ke tujuan meski punya kendaraan.

Pekerjaan juga adalah kendaraan untuk kita beribadah kepada Alloh.
Bahkan bekerja yang diniatkan dari awal sebagai ibadah bernilai sangat besar di mata Alloh.

Dikarenakan bekerja adalah ibadah, maka jika dengan pergi ke tempat kerja membuat kita tidak bisa beribadah dan menjalankan syariat agama, maka sebenarnya ini bukanlah bekerja. Tapi aktivitas maksiat berbalut pekerjaan.

Dan itu hanyalah tipu daya setan semata untuk kita. Berhati-hati kawan..

Kedua, Rezeki tidak selalu Gaji.

Terlalu lama berada di sistem dunia yang seperti sekarang, dimana semua pekerjaan dinilai dengan uang yang dihasilkan. Secara tidak sengaja, kita memasukan input ke dalam pikiran kita bahwa rezeki adalah saat gajian tiba.

Padahal, rezeki tidak sama dengan gaji. Rezeki Alloh teramat luas jika hanya dibatasi dengan gaji.
Dan rezeki tidak selalu harus dari satu tempat kerja.

Ada banyak bentuk rezeki dari Alloh yang sering kita lupakan. Kesehatan, kemudahaan urusan, ilmu yang manfaat, teman yang sholeh dan lainnya. Bahkan, hati yang penuh ketenangan pun adalah rezeki. Sebab banyak mereka yang hartanya berlimpah namun hatinya penuh dengan kesedihan dan kegelisahan.

Maka, Jika dengan bertahan di tempat kerja yang buruk membuat hatimu tidak tenang. Maka meskipun engkau mendapatkan gaji, tapi hakikatnya rezeki malah sedang disempitkan. Masih banyak tempat lain untuk kita mencari rezeki. Bumi Alloh teramat luas untuk bisa memenuhi kebutuhan kita secara baik dan halal.

Ketiga, kenali hukum Kekekalan Rezeki.

Jika di ilmu fisika ada hukum kekekalan energi, maka dalam ilmu rezeki ada hukum kekekalan Rezeki.

Kita tidak mengenal hukum ini, dan itu yang membuat kita seringkali Frustasi dan stress terkait urusan Rezeki. kita beranggapan bahwa Rezeki kita, tergantung dari pekerjaan kita. Ini salah besar..!!

Saya berikan sebuah gambaran.

Kita sebagai manusia sering begini.. Kalau mancing di satu kolam, kita selalu memaksakan harus dapat ikannya ya dari kolam itu. Mungkin karena kita terbiasa belajar 1+1=2 di sekolah formal selama ini.

Maka ilmu kita hanya sebatas itu. Semua kejadian kita ikat dalam bingkai sebab akibat.

Kalau saya mancing di kolam ini, ya harusnya dapat ikan di kolam ini.

Alhasil, tatkala kita mancing ikan di kolam A misalnya, saat tak juga kunjung dapat ikan dari kolam A, kita stress dan frustasi.

Padahal, Rezeki itu wilayah mutlak kehendak Alloh. Dan Alloh tidak terikat hukum sebab akibat. Suka-sukanya Alloh mau memberi kepada siapa yang Alloh kehendaki dan dengan cara yang juga tak bisa disangka-sangka.

Bisa saja ceritanya begini.

Kita sedang mancing di kolam A, lalu setelah sekian lama tak juga dapat ikan. Kita memutuskan pulang.. begitu di jalan, kita papasan dengan kawan yang ternyata juga pulang dari mancing. Terus terjadi obrolan.

+) Dari mana mas?

  • ) Ini dari mancing.
    +) Loh sama.. dapat berapa?
  • ) Wah, lagi kurang beruntung mas. Sudah 2 jam gak dapat juga.

+) Oo gini aja. Saya kebanyakan nih dapatnya. Tadi dapat 4 ekor besar-besar. Di rumah Cuma bertiga, saya istri sama anak. Dua ikan juga cukup. Yang 2 buat mas bawa pulang aja. Daripada saya bawa juga mubazir nantinya.

Alhasil, meski mancingnya di kolam dan nggak dapat ikan. Kalau Alloh sudah berkehendak. Pasti akan dapat juga lewat cara yang tak disangka-sangka.

Inilah hukum kekekalan Rezeki.

Rezeki kita sudah diatur, dan tertulis dalam kita Lauhul Mahfuz jauh sebelum kita diciptakan. Maka pastilah rezeki itu akan sampai kepada kita.

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Andai bukan lewat Gaji, ia akan berubah wujud dalam bentuk lain agar tetap 100% kita rasakan. Sebagaiamana hukum kekekalan energi bahwa energi tidak akan berkurang, atau hilang. Energi hanya akan berubah bentuk saja.

Seperti kata Ibnul Qayyim

“Fokuskan pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.”

Mungkin dengan meninggalkan pekerjaan yang buruk, membuat kita tak dapat Gaji yang besarnya sama. Tapi pastilah Alloh akan tetap memenuhi hak rezeki kita dalam banyak wujud.

Keluarga sehat, anak nurut, suami istri yang memberi ketenangan, orang tua yang berumur panjang, tetangga yang baik, teman yang banyak dan ilmu agama yang terus bertambah dan meningkatkan iman.. itu semua rezeki.

Pilihlah tempat kerja yang baik.. sebab tempat kerja yang baik membawa keberkahan bagi yang yang kita dapatkan.

Dan harta yang berkah lagi halal adalah Sebab bagi kita menjaga keluarga dari Azab Api Neraka. Dan itu juga sebab keberhasilan kita mendidik anak keturunan yang sholeh sholehah di masa depan.

Semoga kita semua diberi tempat bekerja yang baik, atau usaha yang baik. Yang semakin mendekatkan diri kepada Alloh dan taat dengan syariat Alloh. Aamiin Allohuma Aamiin

Penulis : Andre Raditya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *